Pengertian namimah

Islam adalah agama yang damai dan membawa kedamaian serta memperbaiki kehidupan di muka bumi ini. Oleh karenanya dalam hubungan dengan manusia maka Islam melarang keras terjadinya perpecahan dan menganjurkan untuk saling menghargai dan saling menyayangi kepada sesama.
Sahat....perlu disadari bahwa salah satu keadilan Allah adalah diciptakannya manusia dengan berbeda karakter, ada yang diberi naluri yang memang sifatnya penyayang, bahkan ada yang punya sifat yang suka mencelakakan orang lain dengan berbagai macam cara, yang mungkin karena mereka dendam atau ada kepentingan terhadap golongan sehingga tanpa memikirkan akibat dari perbuatannya mereka tak segan-segan melakukan perbuatan tersebut, Salah satu sifat yang sangat dilarang oleh agama Islam adalah sifat namimah. Inilah yang akan kita bahasa tentang apa itu namimah, mengapa timbul sifat namimah, serta bahaya yang ditimbulkan dari sifat namimah tersebut.

Apa itu Namimah?

Salah satu defenisi Namimah dari sekian banyak pengertiannya dari namimah adalah. Menurut bahasa kata namimah itu berasal dari bahasa Arab yang berarti "Adu Domba". Sedangkan menurut istilah bahwa namimah adalah mengadukan suatu perkataan atau menyampaikan sesuatu kepada orang lain yang tidak disenangi. Perkataan tersebut yang diadukan, adakalanya dengan bentuk cerita, tulisan, isyarat atau dengan sindiran.
Dari defenisi tersebut, maka dapatlah diketahui bahwa namimah adalah suatu prilaku mengadu domba atau menyebarkan fitnah kepada  ornag lain dengan tujuan agar diantara mereka saling bermusuhan.
Prilaku namimah merupakan suatu dosa karena dapat menyebabkan suatu perpecahan atau permusuhan kedua belah pihak, dan lebih lanjut dapat menyebabkan konflik perkelahian, tauran yang menyebabkan terjadinya pertumpahan darah dan terjadinya suatu kematian yang tidak diinginkan.

Dalil-dalil Tentang Larangan Perilaku Namimah

1.Dalil Al-Qur'an
Allah Subhaanahu Wata’aala berfirman:
هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيم
“Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah.” (Al-Qalam: 11)
Maksud dari ayat tersebut di atas bahwa orang-orang yang sering menghamburkan kebencian dan fitnah adalah orang yang mepunyai hati yang busuk dan sifat iri dalam hati.
Dan Allah berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيد
“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaaf: 18).
Harus disadari bahwasanya tidak ada ucapan atau kata-kata yang keluar dari mulut seseorang kecuali dia harus pertanggung jawabkan, karena ada dua malaikat yang selalu hadir disamping kiri kananya mencatat apa yang dia lontarkan, terlebih lagi jika mereka menyebarkan suatu kebencian.
Juga Allah berfirman:
وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.” (Al-Humazah: 1). 
Yang dimaksud di sini adalah nammam (yang melakukan adu domba).

Sebab-sebab Timbulnya Sifat Namimah

Dari uraian pengertian dan dalil-dalil yang menyebutkan tentang namimah, maka ada beberapa sebab sehingga timbulnya sifat namimah diantaranya 
  • Adanya perasaan tidak senang kepada orang di bicarakan atau yang diceritakan 
  • Timbulnya dalam hati sifat dengki dan iri hati kepada orang lain karena tidak senang melihat orang lain mendapat kesuksesan atau kebahagiaan
  • Mencari-cari muka kepada orang agar dirinya bisa mendapat simpati dari orang lain
  • Gemar bicara berlebihan, omong kosong, dan benbicara tentang hal-hal yang tidak benar dan disebarkan kepada orang lain

Akibat Perilaku Namimah

  • Namimah merupakan suatu perbuatan yang tercelah yang dosanya sangat besar dan sangat dibenci oleh Allah
  • Namimah adalah suatu sifat yang digolongkan sebagai orang munafiq, karena mereka bermuka dua. karen menfitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan
  • Salah satu akibat dari namimah adalah dapat memutuskan tali silaturrahim atau hubungan persaudaraan 
  • Bahwa orang yang berbuat namimah hidupnya tidak akan tenang akibat dari kebohongan-kebohongannya dan diakhirat kelak semua orang yang sudah dia fitnah, dia adu domba akan datang menghadap kepada Allah meminta pertanggung jawaban dari orang yang mengadunya.

Komentar